ARTIKEL

Bahaya Toxic Positivity bagi Kesehatan Mental

Baca 2 menit
Toxic positivity
Good morning exercise
Berpikir positif merupakan hal yang baik untuk dilakukan agar kita bisa menjalani hidup dengan lebih percaya diri. Namun, jika dilakukan berlebihan, malah justru akan membuat seseorang merasa tidak nyaman, cemas, hingga putus asa.
 
Kita selalu diajarkan untuk berpikir positif, melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang baik. Looking on the bright side. Sebenarnya, ini merupakan saran yang baik. Dengan berpikir positif, kita bisa merasa optimistis sehingga lebih ringan dalam menjalani hidup. Selain itu, membuat kita lebih percaya diri dalam melakukan sesuatu.
 
Namun, ternyata berpikir positif tidak selamanya baik, khususnya di saat-saat seseorang sedang grieving. Dalam kondisi tidak menyenangkan, seperti bangkrut, kehilangan pekerjaan, kematian orang terdekat, sulit rasanya berpikir positif. Alasannya, ada fase berduka yang sedang dihadapi orang itu. Jadi, tidak mungkin buatnya untuk optimistis.
 
Ketika kita sedang berduka, ada beberapa fase yang akan kita lewati. Ini dikenal dengan 7 Stages of Grieving yang dicetuskan oleh Psikiater Elizabeth Kubler Ross.
 
Ketika kita sedang berada di fase-fase ini, kita akan sangat kesulitan untuk melihat sisi positif dari yang sedang dihadapi. Jadi, saat ada orang yang berusaha menghibur dengan menjelaskan berbagai sisi positif, kita tidak bisa memahaminya.

Gejala toxic positivity

Saat seseorang mengalami toxic positivity.
  • Mengenyahkan masalah, bukannya menghadapinya.
  • Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di depan publik.
  • Mengecilkanperasaan orang lain karena merasa tidak nyaman dengan emosi negatif.
  • Mempermalukan orang lain yang tidak bersikap positif.
Saat kita menjadi korban toxic positivity.
  • Bersalah karena merasa sedih, marah atau kecewa.
  • Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
  • Mencoba untuk menjadi pribadi yang tidak merasakan emosi, khususnya emosi negatif.
Perilaku di atas biasanya dianggap sebagai coping mechanism untuk mengurangi stres. Bukannnya menghadapi emosi-emosi tersebut, kita mencoba menghindarinya dengan “mencekoki” diri dengan pikiran-pikiran positif. Hasilnya, justru akan membuat kita makin kesulitan “keluar” dari emosi itu.

Menangani toxic positivity

  • Tanamkan bahwa “It’s okay not to be okay.”. Memiliki perasaan negatif adalah hal yang alamiah. Jadi, terima perasaan itu dan biarkan diri berproses.
  • Kendalikan emosi negatif. Bukannya ditolak, emosi negatif perlu dikendalikan. Dengan begitu, kita bisa tahu kapan saatnya kita mencari bantuan profesional.
  • Fokus pada mendengar dan berikan dukungan. Jika kita mendengar ada rekan atau keluarga yang sedang menghadapi masa sulit, hindari diri untuk “shut down” perasaan mereka. Justru, biarkan mereka tahu kalau perasaan mereka adalah valid dan kita mau mendengarkan mereka.
 
Be nice to yourself. Izinkan diri untuk merasakan semua emosi negatif karena semuanya valid dan penting. Jika kita membiarkan diri merasakan itu semua, justru proses coping akan lebih cepat dan kita bisa segera mencapai fase acceptance.
 
Yang perlu diingat, membiarkan diri mengalami perasaan negatif bukan berarti kita boleh mengungkapkannya tanpa batasan. Kadang kala, cara coping terbaik adalah membiarkan diri untuk menerima sebuah situasi, merasakannya, menenangkan diri, baru kemudian kita putuskan untuk mengambil langkah berikutnya.
Referensi:
AIA. “Why Toxic Positivity Endangers Mental Health”. 
Healthline. “The Stages of Grief and What to Expect”.
Very Well Mind. “Toxic Positivity–Why It’s Harmful and What to Say Instead”. 

Anda mungkin juga tertarik dengan