Rempah-Rempah: Kekayaan Alam Keluarga Indonesia

Kita dianugerahi tanah subur yang kaya akan rempah-rempah. Yuk ikuti perjalanannya hingga kini rempah bisa menjadi bumbu makan siangmu!

hasPublication
false
Article Thumbnail Image
/content/dam/id/images/05-t-rempah-rempah.jpg
Article Image
/content/dam/id/images/05-rempah-rempah-kekayaan-alam-indonesia.jpg
Title
Rempah-Rempah: Kekayaan Alam Keluarga Indonesia
Description

Kita dianugerahi tanah subur yang kaya akan rempah-rempah. Yuk ikuti perjalanannya hingga kini rempah bisa menjadi bumbu makan siangmu!

Coba cek history GoFood kamu seminggu ke belakang. Kalau kamu menemukan nasi padang, kemungkinan besar kamu sudah mengonsumsi lebih dari 10 rempah-rempah dalam satu kali makan. Menakjubkan bukan?

Hasil bumi pertiwi ini memang sudah terkenal sejak dahulu kala dan mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap sejarah dan perekonomian nusantara. Rempah-rempah Indonesia merupakan salah satu alasan bangsa-bangsa Eropa memilih untuk berlayar ke Asia Tenggara pada abad ke-16. Sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, rempah juga merupakan salah satu kontributor terbesar meningkatnya angka ekspor produk pertanian negara menurut BPS.

Penasaran dengan cerita mereka? Yuk simak perjalanannya hingga mereka bisa menjadikan rendang dan gulai ayam yang kamu makan minggu lalu itu rasanya hmm enak banget.

 

Sebenarnya... Rempah itu apa sih? 

Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rempah adalah berbagai jenis tanaman yang beraroma, seperti pala, cengkih dan lada untuk memberikan bau dan rasa khusus pada makanan. Rempah itu sendiri berasal dari bagian-bagian tumbuhan seperti batang, daun, kulit kayu, umbi, rhizome, akar, biji maupun bunga.

Selain digunakan sebagai penyedap rasa pada makanan, rempah juga dapat digunakan sebagai bahan baku pengobatan herbal. Bersamaan dengan sifat antimikroba dan bahkan aromatiknya, rempah telah dipercaya memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan sejak lama.

Keunikan rempah bahkan tercium hingga daratan Eropa. Pada abad ke-16, berbagai negara Eropa berlomba-lomba untuk mendapatkan hasil bumi yang satu ini.

 

Ketika Maluku lebih valuable ketimbang New York

Kamu mungkin pernah membaca bahwa rempah adalah komoditas berharga yang diperebutkan berbagai negara Eropa pada abad ke-16. Tapi, apakah kamu tahu kalau Belanda pernah rela menukar Manhattan New York untuk sebuah pulau di Indonesia demi hasil rempah pala-nya?

Ya, benar! New York, atau yang dahulu disebut New Amsterdam pada saat dikuasai oleh Belanda, rela ditukar dengan sebuah pulau kecil di Maluku demi hasil buminya. Nilai ekonomi rempah begitu tinggi karena faktor kelangkaan di kampung halaman mereka sendiri (Eropa). Pada masa itu, harga jual cengkih hampir bernilai sama dengan harga emas batangan. Maka tidak heran jika daerah Indonesia Timur menjadi pusat trading pada masanya.

Julukan “Mother of Spices” diberikan kepada Indonesia karena keanekaragaman hasil buminya yang terkenal. Pedagang-pedagang dari berbagai negara berebutan datang ke Indonesia hanya untuk berburu dan bertukar rempah.

Berbicara tentang perdagangan atau trading, kamu pasti tahu kan jenis trading apa yang lagi ngetren saat ini? Yes, apalagi kalau bukan bitcoin, dogecoin dan berbagai jenis cryptocurrency lainnya. Mulai dari trader amatiran hingga Elon Musk turut meramaikan feed kita belakangan ini dengan berbagai postingan tentang crypto.

Nah, sekarang coba bayangkan, trading rempah pada masa itu sama populernya dengan crypto hari ini!

Saking ngetrennya, seorang penjelajah berkebangsaan Portugis yang bernama Torne Pires mengisahkan pengalamannya di nusantara:

“Para Pedagang Melayu berkata bahwa Tuhan telah menciptakan Timor untuk kayu cendana, Banda untuk pala, dan Maluku untuk cengkih. Barang dagangan ini tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia kecuali di tiga tempat ini. Saya telah bertanya kepada banyak orang dengan sangat cermat dan sabar, mengenai apakah ketiga komoditas tersebut dapat ditemukan di tempat lain, dan semua orang menjawab tidak.”

Pengaruh kuat rempah nusantara terhadap negara-negara barat inilah yang akhirnya membentuk suatu peradaban dan jaringan yang dijuluki sebagai “Jalur Rempah”.

 

Jauh sebelum era digital, Indonesia sudah mengglobal duluan lho!

Kalau Cina punya Jalur Sutra yang menghubungkan perdagangan Asia dengan negara-negara Timur Tengah dan Eropa, kita pun memiliki jalur yang sama kuatnya.

Jalur Rempah merupakan sebuah jaringan besar pedagang dan pemerintahan yang membentang dari Kepulauan Maluku, Samudra Hindia, Laut Merah, Gunung Sinai, Laut Mediterania hingga Eropa.

Saking luasnya, cakupan Jalur Rempah dapat menghubungkan benua Eropa dengan Asia, Amerika, Afrika dan Australia.

Indonesia sebagai produsen rempah pada saat itu memiliki peran aktif dalam perkembangan jaringan ini. Kekuatan rempah sebagai komoditas dan keterbukaan masyarakat Indonesia kepada pendatang merupakan faktor pendorong utama kesuksesan Jalur Rempah.

Direktur Jenderal Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI, Hilmar Farid, menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia saat ini sudah melupakan keberadaan Jalur Rempah. Padahal, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan jalur rempah sangat mempengaruhi perkembangan nusantara hingga menjadi Indonesia yang sekarang ini kita kenal.

Itu sebabnya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI menyelenggarakan sejumlah program untuk menghidupkan kembali awareness masyarakat Indonesia akan pentingnya Jalur Rempah.

 

Sekarang, rempah hanya berjarak beberapa swipe dari smartphone-mu!

Mulai dari abad ke-16 diperebutkan bangsa Eropa dan mampu mendominasi jalur perdagangan global, rempah nusantara telah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Hingga saat ini rempah sudah dengan mudahnya tersedia di sekitar kita. Tidak lagi perlu jauh-jauh berlayar ke Maluku untuk mendapatkan pala, cukup beberapa kali swipe di aplikasi layanan belanja kebutuhan sehari-hari seperti GoMart.

Meskipun sudah tersedia dimana saja dengan harga yang relatif terjangkau, namun hal tersebut tidak berarti menurunkan kadar manfaatnya. Rempah yang diperebutkan dengan harga mahal oleh bangsa Eropa pada abad ke-16 dan rempah yang kita temukan di warung depan kompleks hari ini, tentu manfaatnya sama saja. Selain manfaatnya sebagai penyedap rasa makanan dan minuman, manfaat rempah-rempah bagi kesehatan tubuh kita juga sangat beragam.

Salah satu jenis minuman yang kaya akan rempah adalah Wedang Uwuh, yang mungkin sempat menjadi tren minuman sehat pada awal pandemi. Minuman ini mengandung paling tidak enam jenis rempah. Mulai dari jahe, cengkih, kayu manis, hingga pala. Manfaat Wedang Uwuh adalah membuat tubuh kita menjadi segar.

Berbicara tentang makanan, yuk kita lanjutkan pembahasan kita di awal tentang rendang! Ternyata makanan khas Minang ini memiliki paling tidak 8 bumbu wajib dan 8 jenis rempah. Bumbu rempah-rempah seperti kemiri, ketumbar, kayu manis, pala, cengkih hingga bunga lawang ini lah yang membuat lidahmu seakan menari-nari saat makan rendang.

Nah, dari kedua contoh hidangan tersebut, rempah yang sama-sama digunakan adalah cengkih dan pala. Ya, dua jenis rempah ini memang telah menjadi rempah-rempah Indonesia yang khas. Seperti kutipan Torne Pires di atas, “...Tuhan telah menciptakan Timor untuk kayu cendana, Banda untuk pala, dan Maluku untuk cengkih.”

Sebenarnya apa sih yang membuat cengkih dan pala spesial banget?

 

Cengkih

Rempah beraroma khas ini memegang reputasi tersendiri sejak jaman Belanda. Bersama dengan pala, kedua rempah ini ketat dikuasai Belanda hingga mereka rela memusnahkan kelebihan produksi untuk menghindari turunnya harga jual. In a nutshell, inilah yang kita kenal sebagai Pelayaran Hongi.

Tidak heran Belanda rela bolak-balik mengitari kepulauan Maluku demi menjaga kestabilan harga cengkih. Selain menjadi rempah wajib pada masakan, cengkih memiliki segudang manfaat bagi kesehatan karena sifatnya yang anti bakteri, anti jamur dan anti radang. Karena kandungan antioksidan yang tinggi, rempah khas Kepulauan Maluku ini sangat ampuh untuk digunakan sebagai obat mengurangi nyeri sakit gigi hingga mengurangi kadar gula pada penderita diabetes.

Bahkan, kandungan eugenol yang tinggi pada cengkih sangat bermanfaat bagi kamu yang memiliki rambut yang mudah patah atau rontok. Semudah memijat-mijat minyak cengkih secukupnya di rambut yang kering dan tunggu 2-3 jam sebelum dibilas, rambutmu akan jauh lebih sehat dan kuat setelah pemakaian rutin.

 

Pala

Jenis rempah yang satu ini mendasari mayoritas perdagangan dan ekspedisi bangsa Eropa dan Timur Tengah ke nusantara. Saking suburnya tanah Indonesia, sejak lama kita sudah menjadi salah satu negara penghasil pala terbesar di dunia. Berasal dari kepulauan Banda, Maluku, rempah jenis ini pun hampir selalu memiliki nilai jual yang sangat tinggi bahkan dari zaman Romawi kuno.

Hingga sekarang, pala masih menjadi salah satu primadona komoditas negara walaupun dapat dengan mudah ditemukan di warung dekat rumah. Rempah yang selalu hadir untuk memperkuat wangi khas dari sop buntut ini, menarik investasi produsen pala terbesar di dunia akhir tahun lalu. Meningkatnya nilai industri rempah-rempah dan perekonomian nasional secara keseluruhan serta pemberdayaan petani lokal merupakan segelintir manfaat investasi ini menurut IDX.

Rempah dengan value setinggi ini pastinya punya banyak manfaat yang baik untuk tubuhmu. Apalagi kalau kamu tertarik ingin memperbaiki kesehatan kulit.

Pala atau yang juga biasa dikenal sebagai nutmeg ini cocok banget untuk kamu yang memperhatikan kesehatan kulit! Maskeran memakai pala setiap minggunya dapat mengurangi hiperpigmentasi dan menenangkan iritasi pada permukaan kulit. Hal ini dikarenakan pala mampu menyeimbangkan produksi minyak pada wajah. Perawatan ini cocok untuk semua jenis kulit, khususnya kamu yang memiliki kulit sensitif dan berminyak.

Jadi, warisan nusantara yang sering dipandang sebelah mata ini sebenarnya mempunyai nilai sejarah yang berharga dan banyak manfaatnya untuk tubuh kita.

Kontribusi rempah tidak berhenti pada sebuah identitas yang mampu membuat negara kita mendunia. Rempah turut andil dalam membangun perekonomian berbagai negara-negara dari dulu hingga sekarang. Industri rempah-rempah pun diperkirakan akan mengalami kenaikan signifikan setiap tahunnya hingga 2026.

Dan percaya atau tidak, sejumlah manfaat rempah-rempah di atas hanya menggambarkan sedikit dari sekian banyak kebaikan rempah yang saat ini dapat dengan mudah kita dapatkan.

Rempah membuat hidup kita #BerawalDariSehat. Namun untuk mendapatkan hidup yang lebih sehat, lebih lama dan lebih baik, dibutuhkan dukungan dan perlindungan tambahan. Agar kamu terus bisa menikmati enaknya ayam gulai di resto padang kesukaanmu tanpa perlu khawatir, AIA saat ini hadir menawarkan berbagai perlindungan diri untuk kamu dan keluarga. Cek langsung pilihan produknya di berawaldarisehat.aia.co.id atau layanan GoSure di aplikasi Gojek.

Publish Date
2021-09-23 14:35
Tags
aia-id-bds:eat-well
SEO Article Description