Mengenal Generasi Alpha, Glass Generation yang Akrab dengan Internet

Berbeda dengan pendahulunya, Generasi Alpha tumbuh dengan dunia digital sejak dini. Yuk lindungi si kecil dengan do's and don'ts seputar gadget!

hasPublication
false
Article Thumbnail Image
/content/dam/id/images/03-t-generasi-alpha.jpg
Article Image
/content/dam/id/images/03-mengenal-generasi-alpha.jpg
Title
Mengenal Generasi Alpha, Glass Generation yang Akrab dengan Internet
Description

Berbeda dengan pendahulunya, Generasi Alpha tumbuh dengan dunia digital sejak dini. Yuk lindungi si kecil dengan do's and don'ts seputar gadget!

Kemampuan anak-anak jaman sekarang dalam mengoperasikan gadget seringkali melebihi kemampuan orang dewasa. Selain karena anak generasi Alpha tumbuh di tengah pesatnya kemajuan teknologi, banyak dari mereka yang sudah mengenal gadget sejak usia belia. Bahkan ketika kita membahas tentang pemakaian teknologi pada anak-anak, tidak jarang kita menganggap seolah-olah gadget adalah teman mereka satu-satunya.

Padahal, berbagai riset telah menunjukkan bagaimana pemakaian gadget yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai masalah dalam masa kecil anak. Contohnya tidak lain dari pertumbuhan fisik yang terhambat dan gangguan psikologis seperti anxiety dan childhood depression.

Lantas, apa saja sih yang bisa dilakukan orang tua agar anak-anak dapat menggunakan gadget dengan produktif? Atau yang lebih gampang dulu deh: tidak rewel ketika gadgetnya ditarik atau dibatasi.

 

Generasi baru? Kenalan dulu yuk!

Badan Pusat Statistik menggolongkan generasi anak-anak yang lahir pada tahun 2010 hingga sekarang sebagai Post Gen Z. Dikenal juga sebagai generasi Alpha, anak-anak yang masuk ke generasi ini memang dikenal lebih luwes dengan gadget. Bagaimana tidak? Sejak lahir mereka ditemani oleh kemajuan teknologi yang pesat. Tidak seperti masa kecil generasi-generasi pendahulunya, yang nonton Youtube dengan resolusi 360p saja sudah keren banget.

Kalau generasi dulu mengoleksi komik dan kartu Pokémon, anak zaman sekarang sudah bisa membuat aplikasi dari umur 9 tahun!

Meskipun mereka tergolong sebagai generasi termuda, generasi Alpha memiliki brand influence dan daya beli yang melebihi usia mereka. Banyak ahli yang mengatakan bahwa mereka akan tumbuh menjadi generasi dengan pendidikan terbaik dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Lebih dari itu, generasi Alpha terkenal sebagai generasi yang paling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh teknologi.

Lebih dari itu, banyak yang menyebut generasi Alpha sebagai Generasi Kaca (Glass Generation). Istilah ini berasal dari perangkat kaca yang menemani bahkan mendominasi masa kecil mereka. Hal ini disebabkan karena generasi Alpha merupakan generasi pertama yang mengenal teknologi sepanjang hidup mereka, dengan pemakaian yang lebih intens dibandingkan generasi Z.

Mengutip FluxTrends tentang media sosial contohnya, “Bagi mereka (Gen Z), media sosial adalah sebuah alat. Bagi Alpha, itu adalah cara hidup.”

 

Tapi gadget itu positif, kan?

Memang, tidak sedikit yang berpendapat bahwa kemajuan teknologi dapat membawa berbagai pengaruh positif apalagi dalam kehidupan anak.

Natasa Djukanovic mengatakan bahwa teknologi mampu memberikan kesempatan dan pengalaman yang lebih baik bagi anak-anak. Teknologi dapat membantu anak memiliki performa yang lebih baik di sekolah. Tidak hanya itu, orang tua mereka mengakui teknologi juga dapat membantu anak-anaknya dalam berteman secara online terutama di masa school from home.

Tidak hanya untuk anak yang sudah duduk di bangku sekolah, gadget juga bermanfaat bagi balita. Penggunaan gadget dapat mempermudah balita yang baru mempelajari warna dan angka melalui video-video pembelajaran yang interaktif, menurut pakar psikolog anak Anna Surti Ariani.

Belum lagi, menguasai teknologi sejak usia muda dapat membantu anak generasi Alpha lebih siap dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Tapi, bukan berarti kita bisa begitu saja membiarkan anak menggunakan teknologi secara leluasa. Pemakaian teknologi yang tidak terkontrol dapat berdampak negatif bagi anak-anak. Tidak hanya secara fisik, kesehatan mental anak-anak pun dapat terganggu. 

 

Ketika anak lebih familiar dengan swipe ketimbang membalik buku…

Layaknya koin yang memiliki dua sisi, penggunaan gadget juga mempunyai potensi buruk bagi anak.

Kebiasaan menatap layar yang berlebihan dapat mempengaruhi perkembangan kognitif, keterampilan bahasa dan berkomunikasi, bahkan kemampuan motorik anak. Mengutip Halodoc, kecanduan terhadap gadget dapat memicu risiko gangguan mata, obesitas karena kurangnya kegiatan fisik dan masalah mental bagi anak.

Spesialis psikologi rumah sakit Marzuki Mahdi Bogor dr. Ira Tanjung mengatakan bahwa 75% anak-anak yang dirawat di RS tersebut menderita penyakit mental yang disebabkan oleh gadget. Penggunaan gadget yang berlebihan pun juga dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan dan memicu emosi anak yang berlebihan.

Tanda-tanda yang paling umum ditemukan sehari-hari adalah ketika waktu tidur, sekolah, dan bersosialisasi anak mulai terganggu. Namun, satu tanda yang dapat membahayakan perkembangan karakter anak adalah timbulnya sifat agresif ketika orang tua mereka membatasi pemakaian gadgetnya.

Bila tidak diatur sejak dini, tanda-tanda tersebut akan menimbulkan efek negatif seperti gangguan fisik dan motorik yang permanen hingga gangguan kesehatan mental di usia dini. Mendidik generasi Alpha untuk memiliki hubungan yang sehat dengan gadget dan internet menjadi salah satu aspek parenting paling penting.

 

Yuk lindungi kesehatan anak dari hal-hal ini!

1. Screen time yang terlalu lama

Screen time adalah lamanya seseorang menatap layar gadget. Setiap harinya, durasi pemakaian gadget harus dibatasi karena berada di depan layar terlalu lama dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti gangguan tidur, obesitas, back pain (inbound link ke artikel back pain) hingga depresi dan gangguan kecemasan. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan pedoman screen time untuk anak-anak yang berusia di bawah lima tahun. Menurut WHO, anak berusia satu tahun sebaiknya tidak diperbolehkan menatap layar sama sekali baik itu menonton TV atau bermain game.

Pedoman ini memperbolehkan anak-anak di atas dua tahun untuk memiliki screen time tidak lebih dari 60 menit setiap harinya. Anak-anak perlu dikenalkan dengan kegiatan fisik seperti olahraga ringan agar kemampuan motorik dan metabolisme tubuh mereka tetap terlatih dengan baik.

Selain membatasi berapa lama anak boleh berada di depan layar dalam sehari, hal lain yang harus diperhatikan adalah kualitas konten yang dikonsumsi oleh anak. Ini berarti memilah mana konten yang dapat mendorong produktivitas anak dan mana yang tidak.

2. Mengakses konten yang tidak pantas

Saking banyaknya konten vulgar yang beredar di berbagai platform media sosial, orang tua pun harus mengeluarkan usaha lebih dalam memonitor dan melarang apa yang dilihat oleh anaknya. Anak dapat dengan mudah terekspos oleh konten vulgar yang membanjiri feed Instagram mereka hanya dengan beberapa kali scroll.

Tontonan yang berkesan harmless sekalipun seperti kartun dapat mengemas adegan-adegan tidak pantas seperti kekerasan dan pembunuhan. Menurut Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), tidak semua film kartun dapat ditonton oleh anak-anak karena banyak kartun yang mengandung unsur kekerasan dan pornografi. Orang tua harus terlebih dahulu mengetahui film seperti apa yang akan ditonton oleh anak sebelum memperbolehkan mereka menontonnya.

Untuk mengontrol konten yang dilihat anak-anak setiap harinya, orang tua dapat menggunakan parental control pada seluruh gadget keluarga. Tidak hanya mengontrol waktu penggunaan dan apa yang diakses oleh anak, parental control juga dapat melindungi mereka dari cyberbullying dan kejahatan online lainnya.

Solusi lain untuk menciptakan keamanan saat menggunakan internet menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yaitu dengan berkomunikasi secara terbuka dengan anak dan menelusuri aktivitas yang dilakukan oleh anak di internet. Penting bagi orang tua untuk berdiskusi dengan anak mengenai jenis-jenis konten yang boleh dilihat serta mana yang harus dihindari. Hal ini juga dapat mempererat hubungan antara orang tua dan anak sehingga mereka tidak merasa terkekang ataupun terbatasi.

3. Ketergantungan anak pada teknologi

Anak-anak yang sudah dibiasakan menggunakan gadget sejak dini akan sangat sulit lepas dari gadget. Tidak sedikit anak-anak yang mengaku bahwa mereka merasa tidak memiliki aktivitas lain ketika gadget mereka diambil atau dibatasi oleh orang tuanya.

Tidak jarang mereka melakukan hal-hal yang tidak terduga untuk mendapatkan kembali gadget mereka, seperti menangis, merengek dan marah.

Orang tua harus bisa menjadi role model yang baik dalam hal ini. Menurut sebuah artikel dari American Academy of Pediatric (AAP), anak-anak hampir selalu meniru perilaku orang dewasa terutama orang tuanya. Dan sebuah studi di Inggris mengatakan bahwa seringkali anak-anak merasa tidak didengar dengan baik karena orang tua mereka masih sibuk sendiri dengan gadget mereka masing-masing.

Maka dari itu, penting bagi masa kecil anak ketika orang tua bisa menjadi role model yang patut dicontoh, terutama dalam pemakaian gadget.

Salah satu caranya adalah menghindari penggunaan gadget ketika sedang quality time bersama anak atau dengan mendampingi anak secara langsung ketika mereka sedang online. Selain itu, orang tua juga dapat menggunakan konten-konten produktif ketika ingin menunjukkan hal-hal baru kepada anak seperti tutorial memasak sambil bermain.

Dan juga, mengajak anak untuk sering berkegiatan di luar sangatlah penting untuk mengurangi kecanduan teknologi. Selain mengasah keterampilan motorik anak dengan melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan gadget, mereka dapat menambah pengetahuan baru dan mengeksplorasi dunia luar.

Nah, itulah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi kesehatan psikis dan fisik anak dari paparan teknologi. Jadi, mulailah dari hal kecil yang dapat membantu mereka menyeimbangi waktu online dan offline, dan jadikanlah gadget sebagai sarana tumbuh kembang anak yang lebih baik.

Yuk bangun masa depan anak dan keluargamu dengan #BerawalDariSehat. Dilengkapi dengan AIA PowerPro Life, kamu bisa melindungi keluarga kecilmu dari berbagai rintangan. Dapatkan berbagai manfaat mulai dari manfaat meninggal hingga perawatan ICU. Persiapkan masa depan keluarga dan si buah hati di berawaldarisehat.aia.co.id atau cek langsung produknya di GoSure oleh Gojek. 

Publish Date
2021-09-23 12:44
Tags
aia-id-bds:think-well
SEO Article Description