Financial Planning 101: Tips Mengelola Keuangan Bulanan

Mulai dari belanja telur di warung, subscription Netflix, hingga brunch di cafe fancy, berikut berbagai tips untuk mengelola keuangan bulanan!

hasPublication
false
Article Thumbnail Image
/content/dam/id/images/04-t-keuangan-bulanan.jpg
Article Image
/content/dam/id/images/04-tips-mengelola-keuangan-bulanan.jpg
Title
Financial Planning 101: Tips Mengelola Keuangan Bulanan
Description

Mulai dari belanja telur di warung, subscription Netflix, hingga brunch di cafe fancy, berikut berbagai tips untuk mengelola keuangan bulanan!

Permisiiii, Pakeeeet!” menjadi ucapan yang tidak lagi asing bagi orang rumahnya karena segala pesanan online nya yang kerap datang hampir setiap hari. Layaknya bulan-bulan sebelumnya, lagi-lagi ia gagal menolak promo tanggal cantik dari iklan catchy di YouTube yang sepertinya makin susah saja untuk di skip. Satu minggu jauhnya sebelum gajian lagi, ia merasa menyesal ngikutin impulse-nya dari kemarin. Padahal, dengan financial planning, keuangan bulanan bisa dikelola dengan lebih efektif.

Rasanya baru kemarin gue gajian. Abis belanja bulanan, beli ini itu, bayar subscription yang padahal nontonnya kapan-kapan, kok udah engap aja ya.. Malah belum beli skincare lagi!” ungkap Nanda, seorang wanita 23 tahun yang baru pertama bekerja. Kalimat ini hampir selalu diulang setiap bulannya.

Sounds familiar?

Percaya atau tidak, bukan cuma kamu kok yang merasa seperti itu. Sebagian besar generasi muda mengeluhkan kesulitannya dalam mengatur financial planning pribadi. Berbagai riset pun sependapat: generasi muda masih merasa kesulitan mengatur pengeluaran setiap bulannya. Malahan, sebuah survei mengatakan 60% generasi muda merasa khawatir dengan masa depan keuangannya!

Kira-kira, apa saja sih penyebabnya?

 

Se-signifikan apa sih generasi muda sekarang?

Mengutip hasil Sensus Penduduk 2020, jumlah generasi Y dan Z dengan rentang usia 8-39 tahun membentuk lebih dari 50% struktur umur penduduk Indonesia.

Jumlah kaum muda yang mendominasi populasi Indonesia ini tentunya menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan, Goldman Sachs mengakui generasi muda sebagai generasi pembentuk perekonomian dunia. Makin kesini, berbagai aplikasi e-banking, e-wallet, bahkan aplikasi pengatur keuangan seperti Money Lover pun semakin populer digunakan oleh anak muda.

Bahkan dengan adanya pandemi COVID-19, transaksi digital di tanah air malah tumbuh dengan pesat. Menurut Bank Indonesia, nilai transaksi digital selama masa pandemi mencapai lebih dari Rp 2.700 triliun, dengan volume transaksi yang melebihi 500 juta pada akhir tahun 2020. Dengan segala lifestyle nya, generasi muda tentu menjadi salah satu kontributor terbesar dalam fenomena ini.

Salah satu contohnya, kamu pasti sering mendengar istilah cashless yang setiap hari makin populer. Platform cashless yang paling diminati anak muda menurut survei adalah GoPay. Selama pandemi, transaksi yang menggunakan dompet digital ini mengalami peningkatan hampir 3 kali lipat dari 2019, dengan jumlah pengguna aktif sebanyak 38 juta orang setiap bulannya. Selain dinilai instan dan praktis, alasan tren ini sangat diterima adalah karena dianggap telah selaras dengan protokol kesehatan selama masa pandemi.

Tidak sedikit juga anak muda yang memilih untuk menggunakan beberapa dompet digital sekaligus. Menurut mereka, dompet-dompet digital seringkali menawarkan berbagai promo seperti diskon dan cashback yang dapat meringankan beban transaksi. Bahkan banyak yang mengaku melakukan metode ini untuk menangkal biaya admin tambahan ketika transfer antar bank.

Sayangnya, seringkali cara ini malah berbalik menjadi senjata makan tuan di akhir bulan, apalagi jika tidak dikelola dengan baik.

 

“Katanya bukan cuma aku yang ngerasa spending-nya bengkak. Yang lain gimana?”

Berbagai penelitian telah menyelidiki ‘keluhan’ generasi muda mengenai pengelolaan keuangan bulanan mereka. Sebuah publikasi majalah Forbes yang berjudul “Millennial Spending Habits and Why They Buy” menunjukkan bahwa generasi Y rela menghabiskan uang demi mendukung gaya hidupnya.

Banyak dari mereka yang menghabiskan keuangan bulanan pribadi untuk makan atau nongkrong di luar. Sehingga secangkir kopi dengan harga di atas Rp 50 ribu sudah menjadi hal yang biasa saja. Tentunya pengeluaran tidak penting seperti ini dapat memangkas isi dompet dengan cepat.

Hal serupa juga terjadi pada diri kita. Kita sering lupa bahwa pengeluaran sepele lama-kelamaan bisa membuat dompet menjadi tipis. Mengutip beberapa survei, 64% generasi muda memiliki kebiasaan berbelanja online, dengan 53% diantaranya memiliki penghasilan kurang lebih Rp 4 juta setiap bulannya. Mereka hanya mengalihkan 10% dari pendapatannya untuk tabungan, separuh penghasilan mereka ludes untuk kebutuhan bulanan dan hanya 2% dari responden yang menggunakan pendapatannya untuk investasi. Sebagai pembentuk perekonomian dan generasi yang dominan dalam masyarakat, financial planning untuk milenial jadi sangat penting.

Tidak hanya satu pendapat yang memandang bahwa generasi muda kurang melek berinvestasi. David Low, seorang General Manager dari Luno Asia Tenggara mengatakan bahwa hampir 70% anak muda Indonesia masih belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk membuat strategi investasi yang memadai. Dalam survei perusahaan Luno yang berjudul “The Future of Money”, ditemukan bahwa sebanyak 20% responden mengaku tidak melakukan investasi sama sekali.

Fakta-fakta di atas hanyalah segelintir dari penelitian yang mengatasnamakan anak muda dan spending habit mereka. Dapat disimpulkan bahwa generasi muda merupakan generasi yang konsumtif. Seperti kata ahli finance Yanuar Andrianto, sikap impulsif generasi muda lagi-lagi dapat dikaitkan dengan paparan teknologi dan lingkungan, yang berujung kepada pemenuhan gaya hidup yang seringkali melebihi kemampuan.

Agar hal-hal seperti ini tidak terjadi ke kamu, yuk simak tips yang bisa dilakukan untuk mengelola keuangan bulanan kamu! 

 

Jauhi peribahasa ini! 

Pasti kamu pernah mendengar peribahasa “Lebih Besar Pasak Daripada Tiang”. Singkatnya, peribahasa ini mengartikan pengeluaran yang lebih besar daripada penghasilan.

Mungkin, kita sering menerapkan ungkapan ini tanpa sadar dengan memiliki pengeluaran yang melebihi kemampuan. Pastinya jika dibiarkan, hal ini akan menyebabkan masalah yang lebih rumit lagi walaupun dampaknya mungkin tidak dirasakan secara langsung.

Maka dari itu, penting bagi kamu untuk memiliki financial planning yang matang. Kamu pun harus lebih selektif dalam memilah, mana yang sekiranya mendesak dan mana yang hanya berupa keinginan sesaat. Selain itu, lifestyle yang kita pelihara juga harus sesuai dengan kemampuan dompet masing-masing.

 

Kunci financial planning sederhana: 50/30/20. Jangan terbalik ya!

Salah satu metode budgeting yang terkenal adalah rasio 50/30/20. Metode ini mengalokasikan pendapatan berdasarkan kebutuhan, keinginan dan target yang ingin kamu capai.

Kebutuhan yang dimaksud di sini adalah biaya hidup, transportasi dan lainnya yang menjadi pengeluaran primer kamu. Sedangkan hal seperti langganan over-the-top content platform dan printilan lainnya masuk ke dalam kategori keinginan. Lalu sisa 20% dari pendapatanmu itu untuk investasi dan tabungan masa depan.

Porsinya bisa diatur sesuai kebutuhan dan kemampuan. Jika kamu sudah memakai rasio ini, bukan berarti PR-mu selesai di situ ya! Kamu harus tetap memonitor secara rutin apakah performamu sudah sesuai atau malah meleset dari target.

 

Pangkas pengeluaran yang tidak esensial.

Kalau kamu masih kesusahan untuk memilah mana kebutuhan, keinginan dan mana yang tidak termasuk keduanya, kamu bisa coba Eisenhower Matrix. Matriks ini bisa membantu kamu menyortir prioritas ke dalam dua kategori: penting dan mendesak.

Begitu kamu sudah bisa membuat list apa saja pengeluaranmu setiap bulannya, kamu bisa mulai mengklasifikasikannya ke empat kuadran matriks ini. Yang pertama, yang penting dan jelas urgent. Ini kuadran yang harus menjadi prioritas kamu. Pengeluaran yang dimaksud biasanya berupa pengeluaran basic sandang, pangan dan papan. Tapi, bukan berarti kamu harus beli baju baru setiap ada diskon ya!

Yang kedua, yang urgent tapi tidak penting. Pengeluaran yang masuk di kategori ini biasanya merupakan hiburan, wisata dan apapun yang kamu biasa lakukan untuk memberi reward kepada dirimu sendiri. Misalnya, refreshing iseng nonton bioskop setelah seharian bekerja.

Yang ketiga, yang penting tapi tidak urgent. Disinilah tempat budget yang kamu siapkan untuk target-target jangka panjangmu. Contoh simple, nabung nikah, investasi bahkan dana pensiun untuk kamu yang suka headstart panjang. Hal-hal yang ada di kuadran ini adalah investasi kamu untuk mendekatkan diri dengan target-target mu.

Yang terakhir, yang tidak penting dan jelas tidak urgent. Yup! You guessed it. Masuk ke supermarket untuk satu barang tapi keluar dengan sepuluh lainnya, awalnya browsing sabun mandi tapi malah jadi beli dekorasi kamar hingga ngeladenin barang-barang promo walaupun tidak termasuk di list belanja. Clue? Sifatnya hampir selalu impromptu!

 

Sebisa mungkin hindari hutang ya!

Ingat peribahasa kita sebelumnya? Well, banyak juga yang mengartikannya sebagai orang yang berpenghasilan banyak namun banyak hutang. Tentu inilah yang kamu harus hindari semaksimal mungkin.

Memang, nggak semua hutang itu sesuatu yang buruk. Keputusan mengambil hutang kadang bisa membantu mengamankan aset yang lebih besar. Singkat cerita, Good debt bisa menambah net worth kamu, sedangkan bad debt bekerja sebaliknya. Baik atau buruknya suatu hutang itu tergantung dengan keadaan kamu sendiri.

Hutang menjadi bahaya ketika kita tidak bisa mengaturnya dengan baik.

Sama seperti mengelola keuangan bulanan, hutang juga harus direncanakan dengan baik. Kalau kamu tidak bisa menghindarinya sama sekali, list dengan detail berapa banyak yang kamu butuh, apa yang kamu harus relakan untuk mencapai itu dan bagaimana kamu bisa membayarnya kembali di waktu yang sudah ditetapkan.

 

Kuncinya hanya satu: konsisten.

Salah satu tantangan dalam membuat planning untuk keuangan bulanan adalah memulainya. Namun, kebanyakan orang bisa mencapai kesuksesan karena dia memulai lebih dulu daripada yang lain. Kamu pun juga bisa melakukan hal yang sama.

Seorang entrepreneur bernama Paul Brown menyarankan agar kamu memulai dengan mengambil langkah-langkah kecil dan berhenti sejenak untuk melihat hasilnya. Mulailah dari memperbaiki kebiasaan-kebiasaan kecil yang mengganggu kesehatan finansial hingga kamu bisa punya perencanaan yang matang.

Kalau kamu menganggap aktivitas sehari-hari yang kamu lakukan dan barang-barang yang kamu beli membawa hasil yang positif, pertahankan dengan konsisten. Namun jika sebaliknya, secepat mungkin gantilah dengan sesuatu yang lebih bermanfaat.

Jangan lupa, kamu juga perlu menganalisa secara rutin biaya dan situasi keuangan bulanan kamu, supaya kebiasaan baru yang bisa mengganggu kesehatan keuangan kamu bisa langsung dihilangkan.

Dengan mengelola keuangan bulanan pribadi sejak dini, kamu bisa melepas rasa khawatir tentang masa depanmu. Nah, salah satu bentuk financial planning adalah memiliki asuransi yang memiliki beragam manfaat. Kini AIA hadir dengan berbagai solusi yang dapat membantumu dalam menghadapi tantangan. Yuk dapatkan proteksi diri bareng AIA dan capai hidup yang lebih baik dengan #BerawalDariSehat. Kunjungi berawaldarisehat.aia.co.id atau cek langsung produknya di layanan GoSure by Gojek!

Publish Date
2021-09-23 14:29
Tags
aia-id-bds:plan-well
SEO Article Description